Jadilah Pemimpin Yang Melayani

Bacaan: Lukas 22:24-30: Percakapan Waktu Perjamuan Malam

Pengantar
Lukas melalui Pasal 22 menunjukkan kepada kita dua dosa dimana gereja/jemaat berjuang melawannya. Pertama adalah dosa pengkhianatan, bagaimana gereja atau jemaat berhadapan dengan masalah pengkhianatan. Lukas menceritan tentang Yudas yang setuju mengkhianati Tuhan Yesus karena kerakusan/kehausan akan uang (Lukas 22:1-6; 21-23). Dosa kedua adalah bagaimana gereja atau jemaat berhadapan dengan keinginan akan jabatan, kekuasaan dan kehormatan. Hal yang terakhir inilah yang menjadi topik dalam bacaan kita pada hari ini.

Pertengkaran Di Meja Perjamuan
Pada ayat 24: Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka.

Para murid bertengkar di meja perjamuan malam terakhir, “Siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka.” Mereka bertengkar siapa yang akan duduk di sebelah kanan Yesus (sebagai perdana menteri) bila Yesus memerintah sebagai raja.

Satu hal yang paling buruk bila terjadi dalam suatu organisasi, suatu persekutuan bersama, dalam bisnis, adalah bila anggota-anggotanya, bila pegawai-pegawai bersaing satu sama lain, saling menyikut satu sama lain, saling kritik satu sama lain, saling bertengkar dan berkelahi satu sama lain untuk memperebutkan posisi atau jabatan. Situasi seperti itu akan sangat memprihatinkan dan membuat putus asa bila anda menjadi pimpinan dalam persekutuan atau organisasi itu.

Bayangkan apa yang Yesus rasakan ketika melihat pertengkaran murid-muridnya dalam jam-jam terakhir menjelang Ia akan di tangkap dan disalibkan? Hal ini terjadi ketika Yesus sedang mempersiapkan diriNya dan murid-muridNya untuk kejadian-kejadian dalam beberapa hari ke depan yang akan menggocangkan iman mereka. Murid-murid yang setiap hari telah mengikuti Yesus tidak menyadari, tidak insyaf, tidak pernah belajar teladan yang ditunjukkan Yesus.

Ambisi kita sering membuat mata kita buta melihat kasih Yesus, kasih Tuhan kepada kita. Sama seperti para murid, kita juga sering seperti itu, bertengkar karena berebutan posisi dalam gereja, dalam persekutuan, dalam pekerjaan. Kita berebutan posisi karena ingin menjadi pemimpin.

Semua orang ingin menjadi pemimpin agar dapat memerintah orang lain, agar dilayani orang lain, agar dihormati dan dimuliakan oleh banyak orang. Kegilaan akan kehormatan dan kemuliaan bagi diri sendiri sering membutakan mata kita, menghancurkan kasih kita kepada Tuhan dan mengkhianati iman kita kepada Tuhan

Respon Yesus

Melihat tingkah laku para muridnya, Yesus menegur mereka melalui 3 teguran:

Pertama dalam ayat Ayat 25-26 : 25 Yesus berkata kepada mereka: “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. 26 Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.

Agak kurang jelas terjemahan resmi ini, lebih jelas alkitab dalam terjemahan sehari-hari sbb: 25 Yesus berkata kepada mereka, “Raja-raja bangsa yang tidak mengenal Allah menindas rakyatnya, dan penguasa-penguasanya disebut ‘Pelindung Rakyat’. 26 Tetapi kalian tidak boleh begitu. Sebaliknya, orang yang terbesar di antaramu harus menjadi seperti yang terkecil, dan pemimpin haruslah menjadi seperti pelayan.

Para pemegang kekuasaan seperti president, perdana menteri, konglomerat berdiri di atas orang lain, mereka memerintah atas bawahan mereka. Mereka memegang kendali (in control) atas semua yang mereka miliki: atas orang atau barang. Mereka mengeluarkan perintah, menyuruh orang apa yg harus dilakukan dan kemana harus pergi. Mereka menjadi boss. Struktur kekuasaan berpusat pada mereka. Setiap orang tunduk dan berada di bawah perintah mereka. Seringkali mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk menindas rakyat dan bukan demi kebaikan

Pemimpin dunia ini lebih menitik beratkan pada posisi, kekuasaan, otoritas dan kehormatan diri mereka. Untuk hal-hal seperti itu, banyak para pemimpin dunia berjuang mati-matian dengan segala cara untuk mendapatkan atau mempertahankan posisi mereka, otoritas mereka atau kehormatan mereka di mata publik.

Untuk menyamarkan keburukan mereka di mata masyarakat mereka berupaya menunjukkan kebaikan mereka melalui sumbangan-sumbangan mereka, membangun rumah ibadah, mengadakan acara-acara hiburan, membagi-bagi makanan atau sumbangan kepada fakir miskin atau anak yatim. Para pemimpin ini akan menyebut diri mereka ”pelindung rakyat” seperti kalau tujuan utama mereka memerintah adalah untuk kebaikan masyarakat dan bukan untuk keuntungan mereka sendiri.

Yesus katakan kepada para muridnya, tetapi kamu tidak boleh seperti itu. Bukan seperti pemimpin yang memerintah, menindas dan berbohong. Sebagai pengikut Yesus kamu atau kita sekalian tidak boleh seperti itu: tidak boleh seperti dunia ini (Roma 12:1-2); terutama kepada para murid, mereka yang akan dipilih menjadi pemimpin gereja yang akan memimpin kawanan domba Tuhan mereka adalah gembala dari kawanan domba Tuhan, mereka bukan tuan atau penguasa atas mereka yang mempercayai kamu. Seperti dikatakan dalam (1 Petrus 5:1-3) 1. Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. 2 Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. 3 Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.

Didalam gereja tak ada ruang bagi mereka yang berpikir dapat memberikan perintah, membuat tuntutan, dsb (2 Korintus 1;24): 1:24 Bukan karena kami mau memerintahkan apa yang harus kamu percayai, karena kamu berdiri teguh dalam imanmu. Sebaliknya, kami mau turut bekerja untuk sukacitamu.

Teguran Kedua Yesus Ayat 27-28: 27 Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. 28 Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami.

Teguran Yesus yang kedua adalah Ia menunjuk kepada teladan dirinya sendiri: ayat 27b Aku ada di antara kamu sebagai pelayan. Dalam Lukas ini tidak diceritakan bagaimana situasi pertengkaran para murid saat mereka sedang makan dan apa yang dirasakan oleh Yesus. Tetapi hal ini diceritakan oleh Yohanes 13:4-5 sbb:
13:4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 13:5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.

Bayangkan semua murid sedang bertengkar di antara mereka dan Yesus duduk sendiri terabaikan oleh mereka. Yesus mendengar pertengkaran mereka dan dengan diam-diam ia berdiri, menanggalkan jubahnya, mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkan pada pinggannya dan mulai membasuh kaki murid-muridnya.

Di dalam zaman Israel pada waktu itu yang biasanya mencuci kaki para tamu undangan adalah para budak. Yesus menanggalkan jubahnya, menunjukkan Yesus menanggalkan semua atribut dirinya dan merendahkan diri sebagai budak, hanya memakai cawat dan kain lap dipinggang yang dipakai untuk mengeringkan kaki setelah dibasuh.

Ini suatu contoh yang jauh sekali berbeda, bagaimana seharusnya tingkah laku seorang pemimpim dalam Kristus. Ia tidak mengejar kedudukan atau kehormatan. Ia lebih mendahulukan pelayanan sebagai tujuan daripada kehormatan dirinya. Sama seperti Yesus tidak mempedulikan kesetaraanNya dengan Allah sebagai suatu hal yang patut Ia pertahankan, tetapi mau merendahkan diriNya jauh lebih rendah dari manusia pada umumnya untuk datang menyelamatkan manusia.

Inilah teladan yang ditunjukkan secara langsung oleh Yesus kepada murid-muridnya. Siapa yang mau menjadi terbesar di antara kamu haruslah menjadi yang terkecil untuk melayani, bukan yang dilayani. Kata Yesus: ”…Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” Itulah Yesus, Guru, Tuhan, Anak Allah yang Maha Tinggi, Pencipta, merendahkan diri untuk melayani bahkan melayani manusia dengan mengorbankan dirinya sampai mati di kayu salib

Teguran Yesus Yang Ketiga Ayat 29-30: 29 Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, 30 bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.

Yesus mengatakan dua hal dalam ayat-ayat ini. Pertama (ayat 29), Dia menceritakan kepada para pengikutnya bahwa betapa bodohnya bertengkar mengenai siapa yang terbesar. Sangat bodoh bertengkar mengenai siapa yang terbesar karena kerajaan itu adalah milik Kristus, dan bukan milik para murid. Kemuliaan hanyalah milik Kristus, kekuasaan dan otoritas adalah milik Kristus. Kebesaran adalah milik Kristus. Dia mendapatkan itu karena Dia telah mengorbankan dirinya untuk melayani sampai mati.

Kedua (ayat 30), Yesus mengatakan kepada para muridnya bahwa tak perlu bertengkar mengenai kebesaran. Itu tak perlu karena para pengikutnya akan berbagi kemuliaan, kekuasaan, otoritas dan kekuasaan dan kebesaran yang dimiliki oleh Yesus. Tak ada kebutuhan untuk bertengkar dan berkompetisi seolah-olah hanya tersedia sedikit posisi bagi mereka karena semuanya itu tersedia bagi mereka dan ada tersedia tanpa batas bagi semua orang. Kemuliaan , kekuasaan, otoritas dan kebesaran Kristus begitu tak terbatas, begitu dalam, begitu besar sehingga lebih dari cukup bagi semua orang. Dan semua itu diberikan sebagai anugerah kepada kita. Kamu akan duduk makan satu meja denganku dan memerintah bersama-sama denganku.

Kata duduk makan satu meja dengan seorang raja menunjukkan kedekatan erat antara seorang raja dengan mereka yang duduk makan bersama. Hanya orang-orang terdekat raja yg boleh duduk satu meja makan. Mereka adalah lingkaran (ring) terdalam dalam struktur kekuasaan raja. Merekalah yang ikut memerintah dengan raja. Merekalah yang tahu persis kehendak dan perasaan hati raja setiap saat.

Apa yang dapat kita pelajari dari pertengkaran para murid dan dari teladan dan teguran Yesus ini terutama sebagai anggota gereja dan anggota masyarakat dan kedua mungkin sebaga sebagai majelis yang dipilih oleh jemaat

Sebagai anggota gereja pengikut Kristus, ambisi dan kehausan akan posisi, kekuasaan dan kehormatan seringkali merupakan sumber pertengkaran dan membutakan mata kita terhadap Tuhan dan menyesatkan dan menjatuhkan kita ke dalam dosa. Marilah kita mengikuti pesan Yesus sesudah Ia membasuh kaki murid-muridNya Ia mengatakan (Yoh 13:15) sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Sebagai ganti mengejar posisi dan kehormatan dalam kehidupan kita, sebagai ganti memburu kekuasaan, otoritas dan pujian dalam hidup kita, kita mengikuti teladan Yesus; kita mengejar kehidupan yang penuh dengan pelayanan.

Ingatlah bahwa melayani adalah suatu pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh para budak atau pembantu. Melayani sering merendahkan martabat, gengsi, dan kehormatan kita. Melayani sering tidak mendapat bayaran bahkan harus mengeluarkan uang sendiri. Tetapi melayani adalah permintaan Yesus kepada kita, sehingga kalau kita merasa diri kita terlalu besar untuk itu, martabak, ego dan gengsi kita berada di atas kehidupan melayani seperti itu, malu melayani, malu merendahkan martabat kita, maka kita menjadi tidak layak bagi Kristus. Karena siapa yang mau mengikuti Yesus harus bersedia menanggalkan semua atribut dirinya dan mau merendahkan dirinya sama seperti Yesus.

Bagi para pemimpin gereja, mereka yang akan dipilih menjadi penatua dan diaken, Yesus berpesan, ” barang siapa yang mau menjadi yang terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi yang terkecil dengan melayani.” Melayani berarti tidak ada ruang dalam persekutuan gereja bagi eksekutif bergaya president, walikota, anggota DPR, dsb. Yang ada adalah kerendahan hati untuk melayani sesama anggota. Dari pada memburu dan mengejar kekuasaan dan kehormatan diri sendiri, marilah kita saling mengasihi dan melayani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: