Haji dan Moralitas

Kewajiban yang hanya dibebankan sekali seumur hidup tersebut merupakan wujud total ketaatan seorang hamba kepada Khaliknya. Sebagaimana letak kopiahnya, ibadah haji memiliki tujuan dan makna yang teramat tinggi dan suci. Karena dengannya diharapkan manusia memiliki kesucian lahir batin, dekat kepada Allah dan sesama serta memiliki rasa berkorban yang teramat besar.

Di Indonesia, banyak kejadian seputar ibadah haji yang terkesan aneh. Haji yang semestinya bisa menjadi solusi berbagai persoalan, karena merupakan perjalanan menuju Tuhan, di negri ini ternyata banyak membuahkan masalah. Mulai dari masalah prosesi pelaksanaan, penyelewengan dana, sampai pada kesenjangan penunaian ibadahnya.

Dalam ajaran Islam, wujud berkorban demi Allah diantaranya adalah dengan menunaikan ibadah haji dan melaksanakan ibadah qurban. Dan berkoban kepada sesama manusia sebagai wujud pengorbanan kepada Allah adalah dengan saling menolong, berkasih sayang, dan tidak saling mengkhianati. Semua kita sebagai hamba Allah diharapkan mampu memahaminya.

Makna berkorban ini ternyata lebih difahami oleh mereka para jamaah haji yang berasal dari berbagai pelosok negri. Karena perjuangan yang mereka lakukan tidak hanya dengan bersusah payah mengerahkan segenap kemampuan guna menyambut panggilan Allah itu, tetapi juga mau berkorban untuk para pejabat mereka yang sudah sangat kaya sekalipun. Terlepas mereka menyadarinya atau tidak, begitulah kenyataannya. Kita berdo’a, semoga orang-orang kecil ini memperoleh haji yang mabrur.

Hal ini bertolak dari kejadian haji pejabat yang menghebohkan beberapa tahun lalu. Bagaimana tidak, perjuangan panjang untuk naik haji rakyat kecil di kampung-kampung bukanlah suatu yang main-main. Mereka harus menabung sedikit demi sedikit, peras keringat, tahan selera, bahkan menjual berbagai harta benda, demi satu harapan : Menyambut pangilanNYA. Ada yang jual tanah, ada yang jual sawah, ada yang jual hasil kebun, dan ada yang menjual perhiasan yang sudah dikumpulkan sedari lama. Sebuah perjuangan yang sangat mengagumkan. Mengagumkan tidak hanya dimata manusia, tapi juga di mata Tuhan tentunya. Karena begitulah haji bagi Si Kecil.

Begitu pun Rasulullah SAW sebagai pejabat negara. Beliau baru menunaikan Ibadah haji setelah melakukan perjuangan panjang dalam mensejahterakan dan menentramkan rakyatnya. Dan pemerintahan pun sudah tertata secara baik. Nyaris tidak ada lagi permasalahan, barulah Beliau pergi menemui Tuhannya untuk berdialog dan beribadah di rumahNYA.

Lain haji Si Kecil, lain haji Rasululullah, lain lagi haji pejabat kita. Bagi pejabat kita (walau tidak seluruhnya) untuk naik haji tidak perlu tabung-menabung dulu. Karena secara financial mereka sudah sangat mapan. Apalagi harus peras keringat serta menjual harta benda segala seperti orang kecil ingin naik haji. Bagi pejabat, haji bias datang dengan sendirinya.

Di sisi lain, rakyat miskin dan bodoh tidak perlu disejahterakan dulu. Pemerintahan yang carut marut biarkan saja waktu yang nanti menyelesaikan. Ketika ada kesempatan gratis berangkat ke Mekah, urusan rakyat harus rela terpinggirkan. Inilah fenomena.

Kita tidak ingin terjebak dalam perdebatan apakah pejabat naik haji dengan DAU atau dana APBN, seperti yang banyak mereka bantahkan. Yang jelas mereka telah melenggang secara gratis berangkat ke tanah suci menggunakan uang negara, yang sebagian besar rakyatnya masih miskin. Dan saat itu tidak ada protes atau perdebatan apakah mereka berhak naik haji dengan uang itu atau tidak. Apalagi meminta dana tersebut dialihkan saja kepada mereka yang lemah tak berdaya, karena mereka punya uang sendiri untuk naik haji.

Kalau kita mau menghitung, tentu sudah sangat berlimpah dana yang sebenarnya bisa memperbaiki kehidupan kaum dhuafa itu mengantarkan pejabat ke tanah suci. Apalagi ritual ini sudah ada sejak zaman Orde Baru. Dapat dibayangkan, seandainya saja uang itu dialihkan untuk memberdayakan usaha ekonomi kaum miskin, mungkin sudah ribuan orang miskin yang jadi kaya, sudah banyak tuna wisma yang bisa berteduh di bawah layaknya sebuah rumah, dan Insya Allah tidak akan ada lagi tamu bernama busung lapar menjumpai negri ini. Apalagi menurut aturannya, DAU salah satunya memang diperuntukkan untuk mengurangi kemiskinan.

Tapi apa hendak dikata, begitulah pejabat kita. Pejabat yang selalu membuat kita bertanya akan makna dan aplikasi moralitas. Bagi mereka, makna mampu serta harta milik sendiri yang bersih yang boleh dibawa naik haji tak perlu dipersoalkan. Apalagi hanya untuk sekedar mementingkan urusan rakyat yang telah lama dibelit kemiskinan terlebih dahulu. Sebagaimana halnya Rasulullah mencontohkan.

Tujuan naik haji untuk menjemput Rahmat, kemuliaan, ampunan, kesucian, dan menambah semangat pengorbanan dan kepedulian pada sesama dalam arti sesungguhnya, juga tidak perlu diperdebatkan. Karena naik haji bagi sebagian mereka (mungkin) hanyalah ajang “wisata spritual”, sembari melihat salah satu keajaiban dunia (Baitullah), sekali gus melakoni sandiwara “sok dekat rakyat” dengan menjadi amirul hajj. Atau bisa jadi hanya untuk sekedar lari dari kejaran tim pemberantasan korupsi. Ironi!

Fenomena ini membuat kita bertanya-tanya, Mengapa haji tidak bisa mencegah korupsi? Mengapa haji belum membawa berkah bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini? Bangsa kita tetap saja terkorup, banyak rakyatnya yang hidup dalam kebodohan, miskin, serta berbagai bencana tanpa henti melanda. Pada hal waktu naik haji para jamaah selalu berdo’a untuk bangsa. Apakah itu disebabkan oleh haji pejabat yang hanya haji-hajian, bukan haji mabrur seperti yang dikehendaki Tuhan? Jika iya, maka barangkali tidaklah salah jika bangsa besar ini melakukan introspeksi.

Lalu bagaimana dengan haji pejabat tadi? Kita tidak ingin memvonis bahwa haji pejabat yang demikian tidaklah mabrur, karena itu hanya Allah yang memutuskan. Tapi mengambil hak orang miskin untuk keperluan kita yang sebenarnya mampu, dan ada unsur-unsur penghianatan di dalamnya, jelas sangat dilarang dan tidak pernah diajarkan oleh agama Islam. Apalagi bangsa ini masih dibelit banyak masalah kemiskinan.

Walau sekarang sudah nampak pembenahan, kita tetap berharap agar kini dan ke depan tidak ada lagi yang namanya haji gratis untuk pejabat yang notabene sudah sangat mampu secara financial, walau dengan alasan menjadi amirul hajj sekalipun. Masih banyak orang miskin yang lebih membutuhkan dana itu. Jika hanya sekedar untuk menjadi amirul hajj, orang-orang kecil yang tidak mampu juga bisa dilatih dan diabiasakan untuk itu. Hal ini akan lebih bermamfaat, disamping bisa menghajikan, juga bisa mengangkat martabat dan kesejahteraan mereka. Dan tugas-tugas negara para pejabat juga tidak akan terbengkalai, karena harus pergi haji hanya untuk menjadi amirul hajj.

Dalam musim haji yang akan menjelang, banyak harapan yang kita gantungkan, diantaranya agar ibadah haji mampu mengobati penyakit rakus dan tamak yang sudah lama menggerogoti bangsa ini. Saatnya haji memberi korelasi positif terhadap moral pejabat kita, baik kini dan ke depannya. Teruslah mengingatkan dan berdoa, semoga hal itu hadir di bumi Indonesia ini.

Kutipan : Bangun Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: