Merawat Kesehatan Masyarakat

Warta Praja

Seorang Ibu muda baru saja menyerahkan tiga helai uang ratusan ribu ke kasir Apotik yang tak jauh dari RSUD Tanjungpandan, karena panas tinggi dan kekhawatiran amat sangat, pasangan muda ini membawa anak mereka dari Simpang Pesak, Belitung Timur dengan mobil milik mereka malam itu juga. Pemandangan bertransaksi obat hingga ratusan ribu memang biasa terjadi di apotik kenamaan di Tanjungpandan, memang biaya konsultasi lebih murah, berkisar antara 20 ribu untuk dokter umum dan 75 ribu untuk dokter spesialis. Karena pola rujuk-merujuk membut praktek dokter dan apotik jauh lebih dekat dibandingkan dengan rujuk merujuk Petugas non medis di Puskemas Pembantu dengan tenaga medis (dokter) di Puskesmas, keengganan berobatpun bertambah selain karena obat yang standar dokterpun belum tentu siap melayani apalagi di malam hari dan di desa terpencil pula seperti Desa Simpang Pesak.

Maklum, kata akhir sekaligus awal dari kepasrahan membayar jasa dan biaya pengobatan tidak saja diucapkan ibu rumah tangga yang resah dengan anak kandungnya yang sakit. Persatuan Ojeg Sekaput pun punya cara lain dan sederhana namun perlu dihargai dan ditauladani. Dari iuran anggota penjaja jasa transportasi ini menyisihkan hasil usahanya untuk biaya pengobatan. Anggota tinggal memberikan kuitansi biaya pengobatan dan langsung diganti. Tentunya biaya penggantian pengobatan tidaklah sebesar jaminan yang diberikan PT.Askes atau program jaminan kesehatan versi pemerintah, seperti yang diungkapkan oleh Junaidi, Ketua Persatuan Ojeg Sekaput yang dikutip dari media Pos Belitung. Maklum, inisiatif adalah kesehatan jiwa yang selalu dirawat masyarakat. Petugas di Puskesmas prihatin melihat ibu dan anak kecil yang kurus, dugaan kekurangan gizi sudahlah pasti, begitu pikiran tenaga non medis ini yang sehari-hari selalu dekat dengan pengunjung. Selesai dilayani dokter, petugas yang hanya tamatan SPK ini menitipkan sekaleng susu, resep hasil diagnosa mata bathinnya. Tapi siapa sangka, ibu muda yang lagi hamil itu menjual susu untuk membeli beras, karena membela perut anaknya. Toh kalo dimakan, janin kan kebagian. Lama tak terdengar kabar, suatu ketika tetangga ibu muda memberitahu, anak dan ibu muda itu meninggal dunia.

Karena itu peran bidan, perawat dan tenaga non medis seperti mantri kesehatan menjadi ujung tombak (front line worker) di wilayah pedesaan. Lalu kenapa tenaga non medis tidak membuka praktek seperti halnya dokter di perkotaan, apalagi rumah dinas bidan relatif sederhana, tak perlu menggesekan kaki, saking akrabnya bidan dan pasien ?.

Menyadari peran paramedis yang juga besar dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dalam mewujudkan Visi Babel Sehat 2010. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) atau Indonesian National Nurses Association (INNA) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengadakan Musyawarah Cabang (Muscab) yang pertama dan Seminar Sehari yang diselenggarakan pada tanggal 11 Februari 2008 di Gedung Wanita Tanjungpandan yang tak lain bertujuan untuk meningkatkan peran dan perlindungan kerja bagi tenaga non medis . Organisasi profesi, PPNI Pusat sendiri sudah berdiri sejak 17 Maret 1974

Muscab ini diikuti 114 perawat yang berasal dari RSUD Tanjungpandan, Puskesmas Tanjungpandan, Puskesmas Selat Nasik, Puskesmas Badau, Puskesmas Sijuk, Puskesmas Tanjung Binga, Puskesmas Membalong, Puskesmas Gantung, Poli LANUD, Poli Polri, dan Poli Foresta.

Kualitas Perawat
Strategi mewujudkan Visi Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas seperti yang tercantum dalam Rencana Strategis Depkes tahun 2005-2009. Dengan demikian perlu disediakan tenaga kesehatan yang berkualitas, biaya operasional kegiatan, sarana fisik dan peralatan kesehatan serta penunjang lain seperti Puskesmas Keliling, Puskesmas Terapung, kendaraan, obat, bahan laboratorium sederhana dan lain-lain.

Jika digabung dengan lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) dan Akademi Perawat Kesehatan, di Kabupaten Belitung jumlah perawat berjumlah 500 perawat. Namun berdasarkan registrasi yang dilakukan PPNI Cabang Belitung pada saat Muscab hanya berjumlah 114 perawat yang bertugas di RSUD Tanjungpandan, Puskesmas Tanjungpandan, Puskesmas Selat Nasik, Puskesmas Badau, Puskesmas Sijuk, Puskesmas Tanjung Binga, Puskesmas Membalong, Puskesmas Gantung, Poli LANUD, Poli Polri, dan Poli Foresta.
Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Depkes RI tahun 2003, mencatat jumlah perawat di seluruh Indonesia sebanyak 38.068 perawat atau 28,3 % dari seluruh tenaga kesehatan di Puskemas. Sebelumnya Depkes pada tahun 2001 mempublikasikan bahwa proporsi perawat di Indonesia mencapai 48% dari 171.738 tenaga kesehatan. Sebagian besar perawat berlatar belakang pendidikan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) sebesar 69 % dan hanya 31% memiliki pendidikanD-III Keperawatan 31 % (Ditwat Depkes, 2005). Oleh karena itu PPNI yang berdiri sejak 17 Maret 1974 mentargetkan pada tahun 2015 nanti perawat sudah memiliki pendidikan Strata Satu.Diharapkan, pada tahun 2008 berdiri Program Studi Ilmu Keperawatan dan Kebidanan melalui Stikes Nusantara, Sungailiat.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 94 Tahun 2001 tentang Jabatan Fungsional Perawat, menyebutkan bahwa tupoksi perawat adalah memberikan pelayanan keperawatan berupa asuhan keperawatan/kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam upaya Peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan kesehatan serta pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka kemandirian di bidang keperawatan/kesehatan.
Menurut petugas di Puskesmas Tanjungpandan, dalam 4 tahun terakhir perawat di empat Puskesmas yakni Puskesmas Tanjungpandan, Kelapa Kampit dan Sijuk telah menerapkan SPMK (Standard Pelayanan Minimal Kesehatan). Namun tugas perawat terkadang didesak untuk menjalankan fungsi medis. ”Mau tidak mau, kami harus mengambil tindakan karena desakan di lapangan”, ungkap petugas di Puskesmas Pembantu. Karena itu, sebagai organisasi profesi, PPNI membentuk Dewan Pertimbangan dan Majelis Kehormatan Etik Keperawatan. PPNI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,H.Muhtani SH, MKes melantik pranata kelembagaan PPNI tersebut pada tanggal 6 Juni 2007 sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.

“Tuntulah ilmu sampai ke negeri Cina” dan ”kualitas manusia di akherat tergantung dengan ilmu yang diamalkan di dunia”. Kedua kalimat religius diatas menunjukkan begitu besar nilai ilmu di mata Tuhan. Sebaliknya nilai penghargaan yang materialistik menjadikan ilmu sebagai indikator kemakmuran. Dalam konteks inilah penghargaan antara tenaga medis dan non medis mengalami kesenjangan. Berdasarkan penelitian Departemen Kesehatan dan Universitas Indonesia pada tahun 2005 di 10 propinsi, 20 kabupaten dan 60 Puskesmas terpencil, terungkap bahwa Puskesmas tidak mempunyai sistem penghargaan bagi perawat, perawat melaksanakan tugas petugas kebersihan, 63.6% melakukan tugas administrasi, lebih dari 90% perawat melakukan tugas non keperawatan (menetapkan diagnosis penyakit, membuat resep obat, melakukan tindakan pengobatan) dan hanya sekitar 50% melakukan asuhan keperawatan sesuai peran dan fungsinya. Kondisi lirih pelayan masyarakat ini patut dipertimbangkan. Pertama, bagaimana tenaga medis dan paramedis bermitra dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Kedua, bagaimana meningkatkan kualitas SDM tenaga paramedis, dan Ketiga, bagaimana tenaga paramedis berupaya mencapai tingkat pendidikan tinggi. Untuk meningkatkan kualitas SDM, lembaga pendidikan menjadi mutlak diperlukan. Caretaker Ketua PPNI Kabupaten Belitung, Herman Abdullah, mengusulkan berdirinya pendidikan D3 Keperawatan (khusus tamatan SPK) di Kabupaten Belitung sebagai upaya peningkatan kualitas tenaga paramedis, ini terkait dengan peran perawat yang semakin dituntut oleh masyarakat. Berdasarkan Kepmenkes Nomor 1239 Tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktek Perawat, perawat pun dimungkinkan untuk membuka praktek seperti halnya dokter. Sepanjang tidak meninggalkan peran perawat dalam pemberian asuhan keperawatan professional yang berkualitas bagi kepentingan masyarakat (Fithrorozi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: