Belajar Menjadi Manusia Otentik

merpatiOleh : Reza A.A Wattimena / Sumber : Internet

Orang yang otentik adalah orang yang bahagia. Mereka adalah orang bebas. Otentisitas adalah hal terindah yang bisa ditawarkan oleh kehidupan kepada kita.

Oleh karena itu, setiap orang perlu menjadikan otentisitas sebagai tujuan hidupnya.[1] Ungkapan ini tampaknya tidak berlebihan.

Banyak orang menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidupnya, dan kebahagiaan yang sejati hanya dapat diperoleh, jika orang mau menjadi dirinya sendiri yang otentik, yang asli, yang tidak dilumuri kemunafikan.

Banyak buku, majalah, talk show di televisi, termasuk Oprah, menjadikan otentisitas sebagai tema utama mereka. Beberapa buku best seller juga mengupas tema ini secara populer.

Ide normatif dari otentisitas adalah, supaya orang bisa menjadi dirinya sendiri secara sungguh-sungguh. Dalam arti ini, terutama di era ketidakpastian politik, ekonomi, dan sosial seperti sekarang, otentisitas merupakan tujuan tertinggi yang bisa diraih manusia.

Akan tetapi sampai sekarang, banyak buku-buku self-help masih mengajarkan orang untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Buku-buku itu mengajarkan, supaya orang menjadi lebih dari dirinya sendiri, menjadi lebih baik, dan menjadi seperti tokoh-tokoh tertentu yang sudah sukses, baik di bidang ekonomi maupun kemanusiaan.

Inilah yang disebut David Riesman sebagai “individu yang terarah pada individu yang lain” (other-directed individual).[2] Buku-buku semacam ini berdiri di atas pengandaian, bahwa ada orang yang belum berkembang secara maksimal.

Oleh karena itu, orang-orang semacam itu perlu dibantu, supaya mereka menyadari bakat-bakat yang mereka miliki, dan mengembangkannya secara maksimal. Setiap orang diajak untuk meraih sesuatu yang belum mereka miliki, terutama dengan mengembangkan diri semaksimal mungkin.

Menurut Guignon, pandangan semacam itu justru membuat orang tidak menjadi otentik. Orang menjadi palsu, karena ia ingin menjadi apa yang bukan dirinya sendiri.

“Ideal kontemporer tentang otentisitas”, demikian tulisnya, “mengarahkan anda untuk menyadari dan menjadi apa yang sudah merupakan diri anda sendiri, yang unik, karakter-karakter definitif yang sudah ada di dalam diri anda.”[3]

Fritz Perls, seorang terapis eksistensial, berpendapat bahwa, orang yang tidak bisa menjadi otentik dapat dikategorikan sebagai orang yang neurosis. Neurosis sendiri adalah suatu kondisi, di mana orang berusaha melarikan diri dari dirinya sendiri.

Orang yang neurosis telah mengorbankan diri mereka sendiri justru untuk mengembangkan dirinya. Akibatnya, mereka merasa hampa, kering, dan tidak bermakna.

Bisa juga dibilang, mereka sudah mati, walaupun tubuhnya masih hidup. Buku-buku self help yang banyak beredar sekarang ini tampaknya sesuai dengan analisis Perls tersebut.

Orang diajarkan untuk menjadi kaya melalui cara-cara tertentu, yang sebenarnya tidak sesuai dengan diri mereka. Akibatnya, banyak orang mengorbankan dirinya sendiri justru untuk mengembangkan dirinya. Jika diri sendiri sudah dikorbankan, maka perasaan hampa makna adalah konsekuensi logisnya.[4]

Jelaslah, bahwa berani untuk menjadi diri sendiri adalah sumber kebahagiaan. Berani untuk menjadi diri sendiri, apapun itu, adalah obat anti neurosis.

Oleh karena itu, pandangan ini layak menjadi tujuan hidup setiap orang. Walaupun begitu, pandangan ini juga sangat sulit diwujukan dalam realitas.

Masyarakat dan dunia sosial keseluruhan mempunyai aturan dan tuntutan, yang seringkali menghalangi orang untuk menjadi dirinya sendiri. “Segala sesuatu di dalam eksistensi sosial”, demikian Guignon, “menarik kita menjauh dari upaya untuk menjadi diri kita sendiri, untuk alasan sederhana bahwa masyarakat bekerja secara maksimal dengan membuat orang terkurung di dalam mekanisme kehidupan sehari-hari.”[5]

Dunia sosial akan berjalan lancar, jika orang memandang diri mereka sendiri sesuai dengan peran sosialnya, serta menjalankan tugas-tugasnya di dalam fungsi sosial tanpa ragu-ragu. Dunia sosial dan peran sosial yang dipaksakan mendorong orang untuk menjadi tidak otentik.

Spiritualitas yang kokoh dan cara pandang yang jernih terhadap realitas merupakan kunci untuk tetap otentik di dalam dunia sosial.

Asumsi dasar dari semua teori tentang otentisitas adalah, bahwa di dalam diri setiap orang terdapat jati diri yang sejati, yang membedakan orang tersebut dari orang-orang lainnya. Jati diri sejati ini mengandung perasaan-perasaan, kebutuhan-kebutuhan, hasrat-hasrat, kemampuan-kemampuan, dan kreativitas yang membuat orang tertentu unik, jika dibandingkan dengan orang lainnya.

Menurut Guignon, konsep otentisitas memiliki dua aspek pemahaman. Yang pertama adalah pemahaman, bahwa untuk menjadi otentik, orang perlu menemukan jati diri sejati yang ada di dalam diri melalui proses refleksi. Jika orang mampu mencapai pemahaman penuh tentang dirinya sendiri, barulah ia mampu mencapai eksistensi diri yang otentik.

Yang kedua, selain menemukan jati diri sejatinya, orang juga perlu mengekspresikan jati diri sejati tersebut di dalam tindakannya ke dunia sosial. Orang perlu untuk menjadi dirinya sendiri di dalam relasinya dengan orang lain. Hanya dengan mengekspresikan jati diri sejatinyalah orang dapat mencapai kepenuhan diri penuh sebagai manusia yang otentik.

Guignon lebih jauh berpendapat, bahwa wacana tentang otentisitas diri manusia terkait erat dengan pertanyaan yang sangat mendasar, yakni apa yang paling bermakna di dalam hidup manusia? Dari sudut pandang filsafat manusia, ada dua kemungkinan jawaban.

Yang pertama adalah, bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang otentik, yakni hidup berdasarkan keyakinan sendiri. Orang diminta untuk hidup sesuai dengan dirinya sendiri, dan bukan atas keinginan orang lain. Seperti sudah disinggung sebelummya, pandangan ini berdiri di atas pengandaian, bahwa setiap orang memiliki potensi dan bakat yang pantas untuk diekspresikan di dalam aktivitasnya di dunia.[6]

Pandangan kedua menekankan, bahwa untuk mencapai hidup yang bermakna, orang perlu mengosongkan dirinya sendiri, dan mengikatkan dirinya pada sesuatu yang lebih besar. Cara pandang ini menegaskan, bahwa orang perlu untuk melepaskan perasaan-perasaan pribadinya, dan mengabdi pada cita-cita yang luhur di luar dirinya sendiri.

Cara pandang ini berakar pada pemikiran Dostoevsky, terutama pada novel Brother Kamazarov, ataupun buku-buku lainnya. Di dalam tulisan-tulisannya, Dostoevsky berpendapat, bahwa konflik di dalam dunia modern muncul, karena orang terlalu berfokus pada dirinya sendiri, sehingga menjadi sangat individualistik.

Orang seolah terpukau pada dirinya sendiri, sehingga ia terobsesi pada kesuksesan pribadi, dan menganggap orang lain sebagai musuh. Orang saling terisolasi satu sama lain, dan hidup dalam permusuhan.

Orang terputus dari komunitasnya, sehingga hidup selalu diwarnai kompetisi, agresivitas, kecemburuan, keterasingan, dan pada akhirnya menciptakan kesedihan yang mendalam. Untuk melawan semua itu, orang perlu melepaskan dirinya dari keinginan dan hasrat.

Orang perlu untuk merasa bebas, bahkan dari dirinya sendiri, sehingga terciptalah situasi yang damai. Dengan melepaskan dirinya sendiri, orang bisa bersatu dengan dunia sosial. Hidup pun mengalir dalam kebersamaan dan harmoni.[7]

Cara pandang terakhir ini mengajak orang untuk keluar dari kesibukan untuk menjadi diri sendiri, yang justru diidealkan oleh teori otentisitas. Dari sudut pandang ini, menurut Guignon, tujuan tertinggi dari kehidupan adalah menjadi peka terhadap panggilan dari sesuatu yang lebih tinggi dari diri manusia itu sendiri.

Orang diajak untuk menyerahkan dirinya pada kehendak Tuhan, pembentukan solidaritas, ataupun pada perjuangan untuk meningkatkan kebebasan di masyarakat. Inti utama dari pandangan ini adalah, bahwa manusia haruslah melepaskan diri dari egonya sendiri yang justru membuatnya tidak bahagia.

Dua pandangan ini mendominasi panggung filsafat barat, terutama pemikiran para filsuf yang merefleksikan manusia secara filosofis. Bagi para pendukung teori otentisitas, pandangan bahwa manusia haruslah mengosongkan dirinya untuk menjadi otentik adalah suatu pelecehan terhadap tanggung jawab orang untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Dengan mengosongkan dirinya sendiri dan berserah pada sesuatu yang lebih besar dari pada dirinya sendiri, orang justru melarikan diri dari tanggung jawabnya sendiri terhadap hidupnya. Orang menjadi dependen.

Para pendukung teori otentisitas yakin, bahwa orang baru dapat hidup secara penuh dan bahagia, jika ia menentukan sendiri hidupnya, dan bertanggung jawab atasnya.

Dari sudut pandang pendukung teori kekosongan diri, hidup yang ditujukan untuk mencapai ideal diri sendiri memiliki masalah yang besar. Bagi banyak orang, proses untuk mencapai otentisitas ideal diri sendiri justru berakhir pada kekecewaan dan kegagalan.

Orang yang gagal mewujudkan ideal ini akan merasa, bahwa ia telah gagal dalam hidupnya. Dapat juga dikatakan, bahwa proses untuk menjadi diri sendiri adalah proses yang elusif, yakni proses yang selalu lepas dari genggaman, walaupun orang sudah berusaha keras menggenggamnya.

Di lubang elusifitas ini, banyak penulis menawarkan tips-tips tentang bagaimana supaya orang bisa menjadi dirinya sendiri. “Seringkali”, demikian tulis Guignon, “program-program pelatihan untuk menjadi diri sendiri terbukti menipu, koersif, manipulatif, mengontrol partisipan, dan eksploitatif secara finansial.”[8]

Disinilah ironisnya, bahwa orang justru kehilangan dirinya sendiri, ketika ia mencoba menemukannya dengan menggunakan pelatihan-pelatihan yang ditawarkan. Pada hemat saya, searah dengan Guignon, program pelatihan yang ditawarkan buku-buku psikologi populer, yang dirancang untuk membantu orang menemukan dirinya sendiri, justru membuat orang terperangkap di dalam cara berpikir ideologis yang sesuai dengan kemauan para perancang program tersebut, yakni kelompok dominan di dalam masyarakat.

Akibatnya, orang yang tidak dapat mencapai cara hidup dari ideologi dominan tersebut akan merasa hampa. Mereka akan merasa bahwa apapun yang mereka lakukan selalu gagal.

Mereka tidak berdaya, dan justru tidak akan pernah bahagia, selama mereka masih menggunakan cara berpikir kelompok dominan di dalam masyarakat, yang seringkali tidak cocok dengan mereka. Pertanyaan sah selanjutnya adalah, dimanakah posisi anda?

Apakah anda adalah orang yang terus menerus berusaha otentik dengan menjadi diri sendiri, lepas dari apa kata orang lain tentang diri anda? Atau, anda adalah orang yang siap untuk mengorbankan diri untuk mencapai sesuatu yang lebih besar dari pada diri anda melalui pengabdian dan pengorbanan?

Jawaban saya kembalikan pada anda.***

4 Komentar (+add yours?)

  1. Adrion
    Jul 27, 2009 @ 00:32:51

    Berarti “menjadi manusia otentik” itu tidak dapat dijadikan sebagai tujuan hidup manusia, karena tidak mungkin seorang akan menjadi manusia yang otentik secara seutuhnya sehingga kemungkinan besar akan gagal dan akan merasa telah gagal dalam menjalani hidupnya,karena sebenarnya akan sangat sulit dan hampir tidak mungkin bagi seorang manusia normal untuk tidak menghiraukan aturan-aturan dan norma yang dominan di masyarakat?

    Jika ya, kenapa demikian?
    Jika tidak, sebenarnya apakah tujuan hidup dari seorang manusia itu?

  2. erbesaputro
    Jun 18, 2011 @ 14:55:02

    manusia otentik itu, bisa saja ada, mungkin jika orang itu tidak punya keluarga, tidak punya tentangga, tidak punya orang-orang yg ada dskitarnya.
    menjadi bahagia aja udah cukup, menurutku. entah dia menjadi dirinya sendiri atau menuruti orang lain, manusia punya hak untuk memilihnya. bahagia pun menurutku hanya persepsi manusia dalam memaknai suatu hal menjadi suatu hal yang hakikatnya menyenangkan.
    yah, begitulah pendapat orang yang sedang mencari tahu sepertiku.
    terimakasih infonya, mari berbagi

  3. Hafizuddin Ahmad
    Jun 23, 2011 @ 01:08:32

    Bagi saya Otentik bukanlah jalan yg tepat tuk menemukan kebahagiaan. Tapi, saat kita mencoba menolong orang lain untuk menemukan kebahagiaan dari kesedihannya, maka disanalah kebahagiaan itu sedang menanti kehadiran kita. Memikirkan diri sendiri untuk masa depan adalah tidak salah, tapi bila disertakan dengan memikirkan masa depan orang lain atau umat maka itu akan lebih bernilai dari sekedar memikirkan diri sendiri. Thanks atas informasinya

  4. Amalul Ahli Hashfi
    Jul 04, 2011 @ 18:50:25

    ya begitulah, kita tidak bisa menjadi manusia otentik seutuhnya karena pada dasarnya manusia berada dalam lingkaran yang membatasi dirinya, ada aturan yang berlaku dalam lingkungan manusia yang membuat mereka tidak bisa bebas seutuhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: