Tsunami Ekonomi, Issue Terbesar 2009 untuk Calon Presiden

presiden

Sumber : Koran Sindo Seputar Indonesia
02 December 2008

PRESIDEN KITA

Sudah menjadi cerita lama, bahwa politik di Indonesia tidak mengacu pada issue. Tidak ada partai A yang lebih laku dari partai B karena partai A lebih mengerti issue global warning dari partai B, misalnya. Padahal dimana kurang pentingnya issue global warning itu? Begitu juga issue pangan, issue gender dan issue tenaga kerja. Semuanya merupakan pekerjaan yang jelas-jelas merupakan tanggung jawab pemerintah, Tapi apakah Calon Presiden mempunyai landasan kebijaksanaan mengenai issue-issue itu? Susilo Bambang Yudhoyono terpilih menjadi presiden di tahun 2004 dengan selisih suara besar. Tidak ada yang tahu dengan jelas issue mana yang membuat dia disukai pemilih. Kalaupun ada janji Pemilu, janji mana yang ditepati?

Pada tulisan yang lalu kami mengusulkan agar calon presiden mengumumkan calon kabinetnya. Itu adalah cara terbaik dilihat dari kepentingan pemilih. Tapi sudah pasti kepentingan pemilih tidak penting bagi calon, yang penting adalah kepentingan untuk terpilih. Karena itu jadi susah untuk pamer kabinet ahli. Kalau begitu, tunjukkan keahlian calon presiden itu sendiri. Sebagai contoh, sekarang Hillary Clinton akan jadi Secretary of State dalam kabinet Obama. Lucu juga kalau Obama umumkan itu dalam masa primary, ketika Barack Obama dan Hillary Clinton bersaing ketat. Obama tidak mengumumkan nama kabinetnya, tapi sekarang calon Menteri AS adalah sederetan nama besar yang kredibel karena keahliannya: Gates untuk Pertahanan, Geithner untuk Keuangan, Clinton untuk Luar Negeri. Dalam kampanye melawan John McCain, Obama sangat clear dalam menyatakan sikap ekonomi: keringanan pajak untuk golongan rendah, tidak ada keringanan untuk golongan menengah-atas , dan pencabutan privilege pajak untuk golongan superkaya. Ternyata golongan superkaya malah mendukung Obama dan bukan McCain yang memanjakan mereka. Soalnya, orang superkaya tahu bahwa kekayaan mereka bersumber dari kesehatan ekonomi dan bukan dari perlindungan pajak.

Obama terpilih karena program ekonomi yang jelas, dan McCain kalah karena menonjolkan ciri konservatif selama kampanye; bersikap a priori tidak mau negara ikut mengurus ketidak adilan ekonomi. Sekarang setelah Obama menjadi Presiden terpilih, issue utama bagi Presiden baru adalah soal ekonomi, bukan lagi soal security seperti kebijaksanaan terhadap Irak, karena semua sudah setuju meninggalkan kebijaksanaan George W. Busj. Tantangan utama mulai 2009 bagi Presiden Amerika Serikat adalah mengatasi tsunami ekonomi yang telah men umbangkan pasar perkreditan dan pasar modal Amerika Serikat. Issue ini pula yang akan menjadi issue terpenting buat Calon Presiden Indonesia tahun 2009. Karena kita perlu mengerti masalah ini dalam perspektif yang benar.

Krisis perkreditan yang dimulai di Wall Street sudah menelan puluhan milyar dan ratusan ribu pekerjaan di seluruh dunia. Bekas ketua Bank Sentral AS Alan Greenspan menamakanya “tsunami finansial terbesar yang hanya melanda dunia sekali dalam 100 tahun.” Amerika dan Eropa merupakan korban pertama. Asia masih terproteksi oleh kekuatan finansial mandiri yang sudah tumbuh di China dan India, dan yang sudah mapan di Jepang dan negara Teluk. Tidak dapat dipungkiri krisis telah menjadi tsunami yang akan makan korban di semua pesisir masyarakat yang tersentuh sistim kredit. Men gapa ini semua bisa terjadi?

Masa lampau selalu menjadi dasar kejadian sekarang, tapi ada kalanya masa lampau masih hidup sekarang ini. Krisis finansial 2008 sebetulnya dimulai dari masa lampau, tepatnya sejak 11 September 2001, ketika teror World Trade Center menghancurkan bukan saja dua gedung tertinggi di New York tapi juga menenggelamkan kehidupan ekonomi. Dalam semangatnya membangkitkan ekonomi, pemerintah Bush mulai melepaskan regulasi pada kredit pemilikan rumah. Keadaan lepas kendali berlangsung beberapa tahun tanpa ada usaha untuk memasang kendali terhadap ekses. Di tahun 2007, ketidak stabilan dalam pasar property menggoyang pasar sekuritas yang berdasar pada kredit perumahan. Selanjutnya peminjam kredit mulai susah bertahan, dan salah satu investment house terbesar di Wall Street, Bear Stearns, tumbang.

Melihat ini, Federal Reserve Bank, bank sentral Amerika Serikat, meminjamkan dana dalam jumlah yang makin besar untuk menstabilkan pasar terutama lembaga keuangan termasuk Citigroup. Kebijaksanaan ini berhasil cukup jauh untuk mencegah tumbangnya sistem perkreditan. Tapi justru penyelesaian tanggung membuat dunia finansial Amerika Serikat rawan dan rapuh.

Penjelasan ini sangat sederhana dan tidak mendalami kompleksitas finansial. Dalam keadaan krisis, detail kalah penting ketimbang perspektif yang membantu pengertian kita. Pertama, kita harus bedakan antara dunia finansial dan dan dunia ekonomi. Dunia masuk krisis finansial, belum tentu masuk krisis ekonomi. Krisis dimulai di Amerika Serikat dimana ekonomi sangat tergantung pada kelancaran finansial. Di Indonesia, masih banyak masalah berada diluar sistem finansial. Produktivitas sumberdaya dan ketenaga kerjaan tidak secara langsung tergantung pada soal finansial. Ketenagakerjaan dan keadilan tidak seluruhnya bagian dari masalah finansial. Tidak semua orang langsung terlibat dunia finansial. Tapi semua orang mempunyai ketergantungan tidak langsung pada kredit bank, asuransi, tabungan dan pasar modal. Karena itu gempa finansial yang ber-episentrum di Wall Street akan melanda Indonesia dalam bentuk gelombang pukulan ekonomi. Bayangkan tsunami sebagai muara getaran gempa bumi di dasar laut. Kalau sistem ekonomi diibaratkan oleh lautan dan daratan, maka sistem finansial diwakili oleh getaran gempa bumi yang menciptakan tsunami. Akhirnya tanah subur di pantai Aceh hancur oleh ombak tsunami yang meneruskan kejadian di dasar tengah laut.

Singkatnya, gejala finansial bertugas mengkomunikasikan – dan mengendalikan – kondisi yang berkembang dalam sistem ekonomi. Krisis finansial adalah peringatan dini sebelum krisis ekonomi. Ketika gejala finansial tidak diperhatikan, bahkan ditambah parah oleh keserakahan merebut keuntungan jangka pendek, maka krisis finansial akan menjadi krisis ekonomi.

Berikut ini pertanyaan kita paling penting Bagaimana issue ini dihadapi oleh calon presiden RI 2009? Siapa orang yang akan membantunya? Kalau SBY dianggap calon terkuat sampai saat ini, apakah beliau akan tetap kuat kalau lebih menjaga kepentingan Bakrie Group ketimbang kepentingan rakyat?

Kalau Presiden Yudhoyono masih terbelenggu oleh ketergantungan Bakrie Group, maka itu menunjukkan ia tidak mengerti krisis finansial dunia terbesar dalam abad ini (menurut Alan Greenspan). Akan terbukti bahwa dia jago kandang dengan pengertian nasionalisme yang sempit. Sudah terlihat saat SBY melindungi Bakrie Group dari tanggung jawab terhadap rakyat Sidoardjo yang tenggelam dalam Lumpur Lapindo. Sekarang jelas terlihat dalam usahanya melindungi Bumi Resource, permata utama dalam Bakrie Group. Untung ada George Soros yang berspekulasi dengan membeli saham Bumi Resource sehingga Bakrie terhindar dari kehancuran. Bakrie Group sudah selamat, sekarang saatnya Presiden Yudhoyono melepaskan Aburizal Bakrie dari kabinet dan mengizinkannya mengurus kembali perusahaannya . Menurut Aburizal Bakrie, ia akan mundur dari kabinet di tahun 2009 untuk mengurus kesejahteraan. Biarkanlah dia mundur sekarang, karena selama dia menjadi Menko Kesejahteraan Rakyat dia tidak bisa mengurus kesejahteraan rakyat. Seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla, jiwanya adalah pedagang, bukan public service. Aburizal Bakrie bisa menjadi orang terkaya di Indonesia, tapi tidak bisa memperkaya orang Indonesia.

Banyak orang yang lebih bersemangat mengurus kesejahteraan rakyat. Biar salah satu dari mereka menjadi Menko Kesra. Memang tidak ada yang bisa memberikan dukungan dana sebesar Bakrie, tapi sudahlah, itu tidak perlu. Yang perlu adalah konsentrasi Presiden mengurus pertahanan ekonomi Indonesia menghadapi tsunami finansial yang mengancam ekonomi kita, sebab itu adalah issue terbesar 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: